Wali Kota Jambi Siapkan Tim Terpadu, Urai "Benang Kusut" Sengketa Lahan Kenali Asam

Wali Kota Jambi Siapkan Tim Terpadu, Urai "Benang Kusut" Sengketa Lahan Kenali Asam

Reporter: Tim | Editor: Admin
Wali Kota Jambi Siapkan Tim Terpadu, Urai "Benang Kusut" Sengketa Lahan Kenali Asam
Wali Kota Dr. dr. H. Maulana, M.K.M, bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E.,M.A,menerima audiensi Panitia Khusus (Pansus) Polemik Zona Merah DPRD Kota Jambi, pada Sabtu malam (07/03/2026)

KABAR18.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi, dipimpin Wali Kota Dr. dr. H. Maulana, M.K.M, bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E.,M.A,menerima audiensi Panitia Khusus (Pansus) Polemik Zona Merah DPRD Kota Jambi, pada Sabtu malam (07/03/2026).

Pertemuan ini merupakan salah satu upaya dari Panitia Khusus (Pansus) Zona Merah DPRD Kota Jambi dalam mengurai benang kusut sengketa lahan di kawasan Kenali Asam. Dalam pertemuan strategis tersebut, Pansus memaparkan laporan hasil konsultasi yang telah dilakukan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Baca Juga: Pemkot Jambi Tambah Armada Sampah, Antisipasi Banjir dan Kebersihan Kota

Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Jambi Maulana menegaskan bahwa Pemerintah Kota Jambi berada di barisan masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak dasar mereka, khususnya terkait kepastian status kepemilikan tanah yang saat ini masuk dalam kawasan yang diklaim sebagai Barang Milik Negara (BMN).

“Pemerintah Kota Jambi berada di barisan masyarakat, karena kita membela hak-hak dasar masyarakat. Saat ini kita masih menunggu surat dari DJKN Palembang. Setelah itu, kita akan membentuk Tim Terpadu untuk menyelesaikan persoalan ini. Pansus DPRD juga menjadi bagian penting sebagai penerima aspirasi masyarakat,” ujar Maulana.

Baca Juga: Pemkot Jambi Pastikan Kebutuhan Balita Penderita Leukemia Ditanggung Pemerintah

Menurutnya, pembentukan Tim Terpadu nantinya akan melibatkan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), serta instansi terkait lainnya guna memastikan penyelesaian masalah dapat dilakukan secara objektif, transparan, dan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Wali Kota Maulana juga menyambut baik progres yang dicapai Pansus. Menurutnya, koordinasi intensif dengan kementerian terkait di Jakarta merupakan langkah progresif yang harus didorong bersama.

Baca Juga: Diplomasi Pramuka: Maulana Bawa Nama Jambi Harum di Negeri Jiran

​”Ini adalah langkah maju. Pemerintah Kota Jambi berkomitmen penuh mendorong penyelesaian ini. Sambil menunggu rekomendasi resmi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), pembentukan Tim Terpadu sudah menunjukkan jalan keluar yang jelas bagi masyarakat,” ujar Maulana.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha menjelaskan bahwa pemerintah kota telah menyiapkan langkah-langkah awal berupa pengumpulan data dan dokumen sebagai dasar penyelesaian persoalan tersebut.

Ia mencontohkan pendekatan yang dilakukan di Kota Surabaya dalam penyelesaian konflik aset, yaitu melalui tahapan audit data dan dokumen secara menyeluruh, termasuk peta sertifikasi dan dokumen kepemilikan lainnya.

“Kita akan melakukan audit data dan dokumen, termasuk peta sertifikasi tanah. Data awal dari pemerintah sudah mulai lengkap, namun apabila masih diperlukan data tambahan maka akan dilakukan koordinasi lebih lanjut antar tim,” jelasnya.

Diza menambahkan bahwa pengawalan terhadap surat keputusan dari DJKN menjadi hal yang sangat penting, karena seluruh proses penyelesaian akan berbasis pada surat tersebut. Oleh karena itu, diperlukan langkah tindak lanjut bersama untuk mengetahui estimasi waktu penerbitannya, mengingat masa kerja Pansus hanya berlangsung selama enam bulan.

Ia juga menjelaskan bahwa aset yang menjadi perhatian dalam polemik ini tidak hanya mencakup tanah masyarakat, tetapi juga fasilitas umum seperti sekolah, kantor pemerintahan, dan sarana publik lainnya yang berkaitan dengan kawasan perumahan serta kepentingan masyarakat luas.

Sebelum kedatangan tim dari DJKN, Pemerintah Kota Jambi telah lebih dahulu melakukan persiapan dengan membentuk tim koordinasi internal melalui surat tugas Wali Kota. Tim tersebut dipimpin oleh Asisten II dan Sekretaris Daerah, serta melibatkan Lurah, Camat, serta Instansi terkait seperti Kejaksaan, Komisi terkait, dan Kodim untuk melakukan pendataan awal.

“Data awal sebenarnya sudah ada dan cukup lengkap, tinggal dilakukan verifikasi dan validasi lebih lanjut. Masyarakat nantinya akan dibagi dalam beberapa klaster berdasarkan dokumen kepemilikan yang dimiliki,” tambahnya.

Adapun klasifikasi masyarakat yang akan didata meliputi beberapa kategori, yaitu masyarakat yang memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM), masyarakat yang memiliki alas hak seperti surat tanah atau sporadik, serta masyarakat yang tidak memiliki dokumen namun telah menguasai fisik tanah.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki dokumen kepemilikan, akan dilakukan pengelompokan kembali berdasarkan lama penguasaan fisik tanah, apakah lebih dari 20 tahun atau kurang dari 20 tahun, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Selain itu, sejumlah indikator lain juga akan menjadi pertimbangan dalam proses verifikasi, seperti kepemilikan Sertifikat Hak Milik dalam radius tertentu dari sumur, serta bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dapat memperkuat klaim kepemilikan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pansus Zona Merah DPRD Kota Jambi, Muhilli Amin melaporkan secara langsung kepada Wali Kota mengenai perkembangan kerja Pansus sejak dibentuk pada 31 Desember 2025 berdasarkan Keputusan DPRD Kota Jambi Nomor 100.3.3/88/Kep.DPRD/Pansus/2025 dengan masa kerja selama enam bulan.

Ia menyampaikan bahwa sejak 5 Januari 2026, Pansus telah mulai bekerja dan melakukan peninjauan lapangan untuk mengecek titik koordinat di sejumlah lokasi yang menjadi objek permasalahan.

“Kami dari Pansus Zona Merah DPRD Kota Jambi melaporkan bahwa sejak pembentukan Pansus pada 31 Desember 2025 dan mulai bekerja pada 5 Januari, kami telah melakukan berbagai kegiatan, termasuk turun langsung ke lapangan untuk meninjau titik koordinat,” ujarnya.

Pansus juga telah melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara serta Kementerian ATR/BPN untuk membahas penyelesaian polemik tersebut.

“Kami sudah bertemu dengan Dirjen Pengelolaan Kekayaan Negara dan juga dengan pihak Kementerian ATR/BPN. Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan ada keputusan untuk membentuk tim yang melibatkan kepala daerah, BPN, DJKN, serta Pertamina guna menyelesaikan persoalan ini,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Pansus tidak bertujuan menyelesaikan seluruh persoalan secara final, namun setidaknya dapat membuka secara terang permasalahan yang ada sehingga proses penyelesaiannya dapat dilakukan secara komprehensif oleh pihak-pihak yang berwenang.

Selain itu, Pansus juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Jambi untuk melakukan pendataan secara rinci terhadap masyarakat yang terdampak, termasuk aset milik pemerintah kota yang berada di kawasan tersebut.

“Dengan terbentuknya tim terpadu nantinya, diharapkan akan ada kelapangan bersama dalam menyelesaikan persoalan ini. Semua pihak akan dilibatkan, termasuk kejaksaan, kepolisian, dan instansi terkait lainnya,” tambahnya.

Permasalahan zona merah ini sendiri berawal dari hasil overlay peta aset PT Pertamina dengan peta pendaftaran tanah yang menunjukkan adanya indikasi sekitar ±5.506 bidang tanah bersertifikat milik masyarakat berada di atas lahan yang diklaim sebagai Barang Milik Negara.

Akibat kondisi tersebut, status kepemilikan tanah masyarakat menjadi tidak jelas dan berdampak pada terhambatnya berbagai aktivitas administrasi pertanahan.

Adapun sebaran indikasi bidang tanah yang masuk dalam klaim tersebut berada di sejumlah wilayah di Kota Jambi, antara lain Simpang III Sipin sekitar ±74 bidang, Mayang Mangurai ±64 bidang, Kenali Asam ±1.843 bidang, Kenali Asam Bawah ±1.314 bidang, Kenali Asam Atas

 

JAMBI – Polemik panjang mengenai status tanah di kawasan yang diklaim sebagai zona merah "Barang Milik Negara" (BMN) mulai menemukan titik terang. Wali Kota Jambi, Maulana, menegaskan komitmennya untuk berdiri di barisan masyarakat guna memperjuangkan kepastian hukum atas tanah mereka.

Langkah strategis ini diperkuat dalam pertemuan audiensi antara Pemerintah Kota Jambi dengan Panitia Khusus (Pansus) Zona Merah DPRD Kota Jambi di kediaman dinas Wali Kota, Sabtu malam (07/03/2026).

Verifikasi Berbasis Data: Adopsi Strategi Surabaya
Pemerintah Kota Jambi tidak ingin sekadar berwacana. Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan skema audit data yang komprehensif. Mencontoh keberhasilan penyelesaian konflik aset di Surabaya, Pemkot akan melakukan klasterisasi terhadap warga terdampak.

"Kami akan membagi masyarakat dalam beberapa kelompok; mulai dari pemilik SHM, pemegang alas hak sporadik, hingga warga yang sudah menguasai fisik tanah lebih dari 20 tahun. Semuanya akan diverifikasi secara transparan," jelas Diza.

Menanti "Lampu Hijau" dari DJKN
Wali Kota Maulana menjelaskan bahwa kunci utama penyelesaian ini ada pada koordinasi lintas sektoral. Saat ini, Pemkot tengah menunggu surat resmi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Palembang sebagai dasar pembentukan Tim Terpadu.

Tim ini nantinya akan diisi oleh para ahli dan pemangku kebijakan, termasuk:

Pemerintah Daerah & Pansus DPRD.
Badan Pertanahan Nasional (BPN).
DJKN & Kementerian ATR/BPN.
Pihak Pertamina serta unsur TNI/Polri dan Kejaksaan.
"Pansus DPRD telah melakukan langkah progresif dengan berkonsultasi langsung ke Jakarta. Kini, kita tinggal menyatukan langkah dalam Tim Terpadu agar penyelesaiannya objektif dan memiliki dasar hukum yang kuat," ujar Maulana.

Skala Dampak: 5.506 Bidang Tanah Terancam
Ketua Pansus, Muhilli Amin, melaporkan bahwa hasil overlay peta menunjukkan setidaknya ada 5.506 bidang tanah bersertifikat milik warga yang terindikasi tumpang tindih dengan klaim aset negara. Sebaran wilayah terdampak meliputi:

Kenali Asam & Kenali Asam Bawah: ±3.157 bidang.
Paal Lima & Suka Karya: ±1.566 bidang.
Kawasan Lain: Simpang III Sipin, Mayang Mangurai, dan Kenali Asam Atas.
Bukan hanya rumah warga, polemik ini juga menyandera status fasilitas publik seperti sekolah dan kantor pemerintahan. Dengan masa kerja Pansus yang tersisa beberapa bulan lagi, Pemkot Jambi berjanji akan mengawal proses ini hingga masyarakat mendapatkan hak atas tanahnya kembali secara sah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Kabar Lainnya

Kabar Lainnya