Hisab dan Rukyat: Ketika Perbedaan Metode Menjadi Ujian Kedewasaan Umat

Hisab dan Rukyat: Ketika Perbedaan Metode Menjadi Ujian Kedewasaan Umat

Reporter: Opini | Editor: Admin
Hisab dan Rukyat: Ketika Perbedaan Metode Menjadi Ujian Kedewasaan Umat
Agus Setiyono, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jambi ( dok pri)

Oleh: Agus setiyono, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jambi

Perbedaan adalah keniscayaan. Ia hadir bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling menguatkan dalam keluasan pandangan. Namun dalam realitas sosial keagamaan, perbedaan sering kali berubah menjadi perdebatan panjang yang melelahkan—bahkan kadang diwariskan lintas generasi seperti pusaka budaya yang tak kunjung usai.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Ramadan Jatuh 3 April 2022

Salah satu contoh paling aktual dan berulang setiap tahun adalah perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadhan. Sebagian menggunakan metode *hisab*, sebagian lainnya berpegang pada *rukyat*. Dua metode, dua pendekatan, dua tradisi ilmiah—yang sesungguhnya lahir dari rahim dalil yang sama.

Di Indonesia, pendekatan hisab secara konsisten digunakan oleh Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdidnya. Sementara pendekatan rukyat menjadi dasar dalam mekanisme penetapan awal bulan hijriah oleh pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dalam forum Sidang Isbat, serta digunakan oleh Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari tradisi fiqhiyahnya.

Baca Juga: Keutamaan Umroh di Bulan Ramadan dan Nikmatnya Berbuka di Madinah

*Metode, Bukan Akidah*

Hisab adalah pendekatan astronomis berbasis perhitungan matematis yang presisi. Ia bertumpu pada data, posisi bulan, elongasi, dan parameter-parameter ilmiah yang dapat diverifikasi secara rasional dan empiris. Rukyat, di sisi lain, adalah observasi langsung terhadap hilal, yang juga memiliki legitimasi dalil dan sejarah panjang dalam praktik umat Islam sejak masa klasik.

Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Jambi Berbuka Puasa Bersama Warga Sekitar dan Santunin Anak Yatim Piatu

Keduanya memiliki akar dalam khazanah fiqh dan sains Islam. Keduanya memiliki dalil. Keduanya memiliki argumentasi. Dan yang terpenting: keduanya tidak sedang membicarakan perbedaan akidah, melainkan perbedaan metode.

Namun ironisnya, yang berbeda metode kadang diperlakukan seolah berbeda iman.

Di titik inilah kita perlu jujur bertanya: "apakah yang kita pertahankan benar-benar kebenaran ilmiah, atau sekadar ego kolektif yang enggan berdamai?"

*Ketika Perbedaan Berubah Menjadi Budaya Debat Tahunan*

Setiap menjelang Ramadhan, lini masa media sosial seolah punya agenda tetap: “Lebaran hari apa?” “Puasa mulai kapan?” Meme bermunculan. Sindiran halus berubah menjadi perbedaan tajam. Seolah-olah Ramadhan adalah arena lomba pembuktian siapa yang paling benar.

Padahal, jika direnungkan, perbedaan ini telah ada sejak lama dalam tradisi keilmuan Islam. Para ulama klasik berbeda pandangan tanpa saling membatalkan keislaman satu sama lain. Mereka berdebat dengan argumentasi, bukan dengan asumsi. Mereka berbeda dengan adab, bukan dengan amarah.

Sayangnya, dalam konteks modern, perbedaan metode terkadang menjelma menjadi identitas eksklusif. Yang satu merasa paling ilmiah, yang lain merasa paling tekstual. Yang satu merasa paling rasional, yang lain merasa paling setia pada sunnah. Padahal keduanya sama-sama berusaha taat.

Bukankah ini sedikit menggelikan? Kita berbeda dalam melihat hilal, tetapi sering kali sepakat dalam hal yang lebih problematis, sama-sama mudah menghakimi.

*Kedewasaan Beragama di Era Informasi*

Secara ilmiah, hisab dan rukyat bukan dua kutub yang saling menegasikan. Banyak negara dan lembaga internasional justru mengintegrasikan keduanya. Sains modern bahkan membantu memperjelas kemungkinan visibilitas hilal, sehingga rukyat tidak lagi sekadar melihat, tetapi juga membaca data.

Maka sesungguhnya, persoalan ini bukan lagi pada benar atau salah secara mutlak, melainkan pada pilihan metodologis yang sah secara syar’i dan ilmiah.

Dalam kerangka sosiologis, perbedaan ini adalah cermin kematangan umat. Apakah kita mampu menerima bahwa dalam satu negeri, bahkan dalam satu keluarga, mungkin ada perbedaan hari memulai puasa—tanpa harus memulai perang status?

Agama mengajarkan persaudaraan. Ilmu mengajarkan ketelitian. Adab mengajarkan kelapangan. Jika ketiganya berjalan bersama, maka perbedaan tidak lagi terasa sebagai ancaman.

*Menyudahi Budaya “Merasa Paling Benar”*

Budaya merasa paling benar adalah penyakit lama yang tak kunjung sembuh. Ia menyelinap dalam diskusi ilmiah, lalu membesar dalam ruang publik. Padahal yang kita perdebatkan hanyalah metode penentuan waktu—bukan substansi ibadah itu sendiri.

Ramadhan tetaplah Ramadhan. Puasa tetaplah puasa. Nilai taqwa tidak ditentukan oleh apakah kita memulai sehari lebih awal atau lebih akhir, tetapi oleh kesungguhan hati dalam menjalaninya.

Mungkin sudah saatnya kita memindahkan energi perdebatan ke ruang yang lebih produktif: bagaimana meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat solidaritas sosial, dan menghidupkan masjid-masjid dengan ilmu dan amal.

Karena pada akhirnya, hilal bukan hanya tentang bulan yang tampak di ufuk barat, tetapi juga tentang cahaya kedewasaan yang seharusnya terbit dalam diri kita.

Perbedaan metode adalah rahmat jika disertai ilmu dan adab. Namun ia bisa menjadi petaka jika dibalut ego dan fanatisme.

Dan mungkin, yang paling perlu kita rukyat bukanlah hilal di langit—melainkan kerendahan hati di dalam diri.
_Wallahu a'lam bish shawab_

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Kabar Lainnya

Kabar Lainnya