Kabar18.com

Sabtu, 19 September 2026

Penjual Bendera di Pinggir Jalan Kalah Saing Sama Penjualan Online

Hasan, penjual bendera di Jl. Selamat Riyadi, asal Garut (foto/m.asrori.s)

Oleh

Penanggung Jawab Redaksi: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Hasan, penjual bendera di Jl. Selamat Riyadi, asal Garut (foto/m.asrori.s)
Hasan, penjual bendera di Jl. Selamat Riyadi, asal Garut (foto/m.asrori.s)

JAMBI,KABAR18.COM - Moment peringatan Hari Ulang Tahun  Republik Indonesia setiap tahunnya, ternyata tak disia-siakan oleh masyakarat untuk menjajakan barang dagangan, seperti bendera merah putih dan umbul-umbul. 

Sayangnya, mereka para penjual berbagai macam pernak-pernik merah putih ini, merasa sedih dan prihatin, lantaran tahun ini kondisinya sepi pembeli, barang dagangannya banyak tak laku terjual.  

Biasanya, pada pertengahan bulan Juli, para penjual bendera ini sudah datang dan menggelar dagangannya di sisi kanan-kiri jalan protokol, seperti yang terlihat di berbagai tempat di Kota Jambi.

Mereka mengaku datang berasal dari Garut, Jawa Barat, secara berkelompok, dan selama di Jambi atau di daerah lain, menetap sementara mengontrak atau ngekos dalam satu rumah.   

Hasan, (60) penjua bendera yang mangkal di jalan Selamat Riyadi, mengatakan, bahwa dirinya datang ke Jambi tidak sendirian dan membawa barang dagangannya langsung dari Kota Garut.

“Dari Garut, bawa langsung barang dagangan. Sekarang ini sepi, jarang ada yang mau beli bendera. Tidak seperti tahun lalu. Ini gara-gara ada penjualan on line. Ini aja dari kemarin dan hari ini (16 Agustus) belum ada yang beli, “ujar Hasan, prihatin.

Begitu juga Lukman Hakim (45), kawan satu kelompok dengan Hasan, yang menggelar dagangannya di Jl. Yusuf Singadikane atau di depan kantor Jasa Raharja, juga mengungkapkan keprihatinannya terkait barang dagangannya banyak yang tak terjual.

“Tahun ini memang benar-benar prihatin, pasalnya usaha menjual pernak-pernik merah putih dalam rangka memeriahkan HUT RI, hasilnya tidak sesuai harapan. Ini berpengaruh adanya penjualan on line lewat akun media sosial. Tahun kemarin masih lumayan hasilnya, pulang ke Garut ada yang dibawa untuk anak dan istri, “ungkap Lukman Hakim, sedih.

Sementara Revi (50), penjual bendera yang mangkal di Jl Patimura atau di depan kuburan China, saat timui mengatakan, pembeli yang datang justru malah protes, padahal seharus pembeli itu menawar berapa untuk harga satu bendera atau umbul-umbul yang mau dibeli.

“Sekarang ini pembeli malah protes, bukannya tawar menawar, karena dinilai harga satu bendera atau umbul-umbul terlalu mahal. Pembeli menganggap penjualan on line lebih murah dibandingkan membeli langsung ke penjual, “ujar Revi yang asli tinggal di Jambi.

Gegara maraknya penjualan secara on line, tambah Revi, tahun ini hancur semua penjual bendera seperti dirinya, banyak lah ruginya daripada untungnya.***

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.